oleh

Sindir Ahok, Pigai: Calon Menteri Kebanggaan Jokowi

DEMOKRASI News – Mantan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai ikut mengomentari kerugian besar yang dialami PT Pertamina (Peresero) pada semester I Tahun 2020. Dia pun lebih menyorot peran Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang menjabat sebagai Komisaris Utama.

Dia menyindir Ahok yang disebutnya sebagai calon menteri kebanggan Presiden Joko Widodo atau Jokowi.
Baca juga : Ngotot Buka Saat Zona Merah, Anies Yakin Bioskop Tak Jadi Kluster Baru

“Pertamina Rugi 11 Trilyun?. Calon Menteri, Kebanggaan Ir. Haji Joko Widodo. Padahal Indonesia satu diantara sedikit negara di dunia yang mencekik leher rakyatnya karena Harga BBM tidak turun saat harga minyak di dunia jatuh sampai nyaris Nol Dollar/barrel selama Covid-19,” tulisnya dalam akun Twitternya @NataliusPigai2 seperti dikutip alw-jsutice.co, Kamis (27/8/2020).

Selain mencuitakan hal tersebut, dia juga menyematkan sebuah video lama yang berisikan pernyataa Ahok saat awal-awal menjabat Komisaris Utama Pertamina. Dalam video tersebut, Ahok menyebut bahwa BUMN seharusnya menyetor duit (keuntungan) ke kas Negara (APBN), bukan malah disuntik dana dari APBN.
Baca juga : Gatot Ternyata Tolak Tawaran Jokowi Ini, Maunya Jadi Presiden?

Bahkan, Ahok juga sesumbar jika dalam waktu 7 bulan dirinya menjabat Komut dan Pertamina tidak untung, maka perusahaan plat merah itu sebaiknya dibubarkan.

Sebelumnya, Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini menjelaskan ada tiga faktor yang menyebabkan kerugian Pertamina pada semester awal tahun ini.
Baca juga : Satgas Covid-19 Akui Keberatan Penuhi Permintaan Jokowi Ini

Pertama karena adanya penurunan permintaan pasar. Kemudian, nilai tukar rupiah menjadi faktor kedua. Sebab, laporan keuangan secara fundamental di Pertamina merujuk pada pembukuan dengan nilai mata uang dolar Amerika Serikat

“Yang ketiga ini terkait dengan crude. Dengan melemahnya crude price di second quarter menyentuh angka 19 sampai 20 dolar AS perbarel. Dibandingkan posisi Desember 2019 63 dolar AS perbarel kita sangat terdampak sekali pada margin hulu. Padahal margin hulu penyumbang atau kontributor ebitda terbesar 80 persen,” jelasnya.[*]

Komentar

loading...

News Feed