oleh

Polisi Garap Denny Siregar, Foto Ilustrasi Calon Teroris Ternyata Santri Pesantren Tahfidz Quran Daarul Ilmi

DEMOKRASI.CO.ID – Polresta Tasikmalaya merespon cepat laporan Forum Mujahid Tasikmalaya yang memperkarakan pegiat media sosial Denny Siregar.

Denny Siregar dilaporkan ke polisi atas dugaan pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan serta penggunaan foto tanpa izin.

Denny diduga memposting foto para santri Pesantren Tahfidz Quran Daarul Ilmi Kota Tasikmalaya dalam tulisannya berjudul ‘Adek2ku Calon Teroris yg Abang Sayang’.

Foto santri Pesantren Tahfidz Quran Daarul diambil ketika Aksi 212. Namun foto itu digunakan Denny Siregar sebagai gambar ilustrasi untuk melengkapi tulisannya di Facebook pada 27 Juni 2020 lalu.

Kasatreskrim Polresta Tasik, AKP Yusuf Ruhiman memastikan akan menindaklanjuti laporan Forum Mujahid Tasikmalaya terhadap Denny Siregar.

Baca :  Viral Salat Jenazah Dokter Positif Corona di Medan, Peti Tetap dalam Ambulans

“Kita sudah mulai pemeriksaan terhadap korban dalam kasus dugaan pelanggaran UU IT tersebut,” ujar Yusuf Ruhiman yang dihubungi radartasikmalaya.com (grup Pojoksatu.id), Jumat (03/07) siang.

Dia menambahkan, langkah selanjutnya yang akan dilakukan yakni memanggail saksi-saksi dan terlapor.

“Nanti terlapor juga akan kita panggil tapi nanti terakhir,” terang Yusuf Ruhiman.

Terpisah, Pesantren Tahfidz Quran Daarul Ilmi Kota Tasik membantah ada anggapan dalam Aksi 212 tahun lalu mengeksploitasi santri untuk ikut aksi.

Keikutsertaan para santri dalam aksi 212 di Jakarta, kata dia, adalah untuk membaca Alquran dan bermain nasyid. Pimpinan Pesantren Tahfidz Quran Daarul Ilmi, Ustadz Ahmad Ruslan Abdul Gani menuturkan, keterlibatan para santri dalam aksi itu bukan untuk ikut turun ke jalan.

Baca :  Akun Twitter-nya Diviralkan Nge-Like Situs P0rno, Fadli Zon Dipolisikan

Apalagi, tegas dia, kegiatan itu bukanlah aksi politik, melainkan merupakan aksi bela Islam.

“Lagi pula, mereka (para santri, Red) tidak teriak-teriak. Mereka hanya mengaji dan bermain nasyid, menghibur peserta aksi,” tuturnya.

Menurut dia, tak ada bukti para santri ikut teriak-teriak turun ke jalan. Santri mengikuti aksi dengan damai dan hanya mengaji di depan Masjid Istiqlal.

Kalau santri teriak-teriak, jelas dia, baru itu dapat dikatakan radikal. Namun, saat itu santri hanya mengaji dan bermain nasyid.

Menurut Ruslan, pernyataan yang disebutkan Denny Siregar bahwa para santri itu adalah calon teroris merupakan tuduhan tak berdasar. Denny dianggap telah mencemarkan nama baik para santri dan pesantrennya.

Baca :  Jokowi Marah Lagi, PKS: Ibaratnya Rakyat Sudah Terkapar Tapi Pemerintah Baru Sadar

“Dia tak tahu kejadian, tapi menuduh mereka (para santri) calon teroris,” bebernya.
Bukannya membuat pernyataan minta maaf, jelas dia, Denny justru mengelak bahwa foto itu merupakan obyek dari isi statusnya.

Menurut Denny, dalam status terakhirnya, foto itu hanya ilustrasi yang memperkuat statusnya. Namun, Ustadz Ruslan menganggap hal itu justru membuat kesalahannya semakin tampak. Sebab, status mengenai santri telah lebih dulu dihapus.

“Kalau ilustrasi itu kan menguatkan konten. Tapi saya paham bahasa. Dalam status itu, ia menjelaskan mengenai foto itu,” tandasnya. (one/pojoksatu)

Komentar