oleh

Pengamat HI: Hati-hati Gunakan Istilah Islamofobia

DEMOKRASI News – Penggunaan istilah “islamofobia” terhadap isu-isu yang terjadi belakangan ini di Eropa perlu digunakan dengan hati-hati.

Bahkan pengamat ilmu hubungan internasional dari Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI), Yohanes Sulaiman menyebut, penggunaan istilah tersebut tidak tepat digunakan terhadap fenomena yang terjadi beberapa waktu terakhir.

Yohanes menuturkan, islamofobia adalah ketakutan yang tidak masuk akal, di mana satu kelompok atau negara mendukung aksi untuk menyerang agama Islam.

Dalam hal ini, menurut Yohanes, ismamofobia merupakan istilah yang sangat radikal dan ekstrem, sehingga dapat menutup kesempatan semua pihak untuk mengerti akar permasalahan.

“Saya tidak temukan itu di Prancis, Inggris, Amerika Serikat, atau Australia,” kata Yohanes dalam RMOL World View bertajuk “Islamofobia, Masihkah Jadi Pekerjaan Rumah Dunia?” pada Senin (23/11).

Baca :  Dibongkar Pejabat KKP, Istri Edhy Prabowo Pinjam Kartu Kredit untuk Beli Barang Mewah, Endingnya Malu-maluin deh

Meski begitu, Yohanes tidak mengesampingkan adanya fenomena takut pada Islam di Eropa yang disebabkan oleh banyak faktor, seperti pengungsi dan teroris.

Di Hongaria, ia menyebut, Perdana Menteri Viktor Orban terbukti tidak menyukai Islam.

Sementara itu, di Amerika Serikat (AS), Presiden Donald Trump melarang pengungsi atau warga dari negara mayoritas Muslim untuk masuk ke Amerika.

“Dia memang memainkan suku agama, tapi saya tidak melihat itu islamofobia,” ucap Yohanes.

Jika merujuk pada isu yang terjadi di Prancis, Yohanes menjelaskan, islamofobia terjadi di sana. Pasalnya, Prancis banyak menerima pengungsi dari negara-negara mayoritas Muslim seperti Suriah.

“Menurut saya, bukan ide bagus untuk menetapkan ini sebagai islamofobia,” tandasnya.[Rmol]

Komentar