oleh

Partai Gelora ke Istana Itu Butuh Dukungan Penguasa

DEMOKRASI.CO.ID, JAKARTA – Kedatangan Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) membuat langkah yang cukup berani.

Partai besutan mantan Presiden PKS, Anis Matta itu datang ke Istana Negara menemui Presiden Joko Widodo.

Padahal, selama ini sosok orang-orang di belakang Partai Gelora selalu mengkritik kebijakan Pemerintahan Jokowi.

Terlebih, pertemuan itu dilakuan di tengah Indonesia tengah dilanda pandemi Covid-19.

Langkah Partai Gelora itu dinilai makin memperjelas bahwa Partai Gelora tak ubahnya sama dengan partai politik yang lebih dulu lahir.

Yakni menejadi partai politik dengan ideologi yang cederung pragmatis.

Demikian disampaikan pengamat politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun dihubungi PojokSatu.id, Selasa (21/7/2020).

“Ternyata Partai Gelora tipologinya tidak jauh beda dengan partai lama, yaitu sama-sama pragmatis,” ujarnya.

Baca :  Rizal Ramli: Era “Pura-pura Merakyat” Sudah Berakhir, Era Baru Akan Datang

Sebagai parpol baru, seharusnya, memiliki garis damarkasi ideologi yang jelas dengan penguasa.

“Karena hal itu dapat membedakan antara partai lama dan baru,” sambungnya.

Ubedilah mengatakan, bertemu penguasa yang sedang bermasalah juga menunjukan betapa rapuhnya ideologi partai tersebut.

Kendati demikian, lanjutnya, biasanya pragmatisme partai baru itu terjadi karena minimnya capital dan elit politiknya karena tersandera sejumlah persoalan.

“Sehingga membutuhkan semacam dukungan luas dari beragam elit,” pugkasnya.

Komentar