oleh

Masyarakat Yang Kehilangan Kemampuan Mencium Bau Disarankan Melakukan Swab Test Covid-19

DEMOKRASI News – Kehilangan kemampuan mencium bau dimungkinkan menjadi salah satu ciri seseorang terinfeksi Covid-19.

Dokter Spesialis THT Rumah Sakit Umum (RSU) Persahabatan Jakarta, dr. Deasi Anggraini menjelaskan, seseorang yang mengalami gangguan penciuman dalam dunia medis disebut Anosmia.

Deasi menyebutan, munculnya gejala Anosmia dalam kondisi Covid-19 sekarang ini perlu diantisipasi masyarakat. Sebab, bukan tidak mungkin gejala tersebut adalah satu ciri seseorang terinfeksi virus asl Wuhan, China tersebut.

“Jika mengalami ganguan penciuman (Anosmia) secara sadar atau tidak secara tiba-tiba, kalau bisa lakukan tes PCR,” ujar Deasi dalam acara Bincang Sehat virtual Kantor Berita Politik RMOL bertajuk “Kenali Covid-19 Lewat Gangguan Penciuman”, Jumat (27/11).

Baca :  Mahfud MD: Artidjo Alkostar Hakim Agung Berjuluk Algojo Para Koruptor

Adapun, Deasi menyarankan cara lain untuk masyarakat yang mengalami gejala Anosmia. Yaitu melakukan isolasi mandiri di rumah selama 7-14 hari, guna mencegah penlaran dan penyebaran Covid-19.

Selain itu, Deasi juga menyarankan masyarakat yang Anosmia untuk mendeteksi secara mandiri mengenai gejala Anosmia ini.

“Karena ada yang sering tidak menyadari dirinya Anosmia. Nah, di era pandemi ini bisa mendeteksi di rumah dnegan mencium minyak kayu putih, lemon, atau benda-benda lain yang punya aroma kuat,” ungkapnya.

Jika diketahui ada gejala Anosmia, atau tidak bisa mencium aroma, maka langkah uatama yang bisa dilakukan masyarakat adalah mealkukan cuci hidung.

Sebagai contoh, Deasi menceritakan pengalaman salah seorang mahasiswa kedokteran yang magang di RSUP Persahabatan. Di mana mahasiswa tersebut tidak memiliki gejala Covid-19 pada umumny, seperti sesak nafas, demam, batuk dan pilek.

Baca :  Positif Corona Terus Melonjak, Totalnya 84.882 Kasus, Sembuh 43.268 Pasien, Meninggal 4.016 Orang

Akan tetapi, mahasiswa yang positif Covid-19 tersebut merasa kehilangan penciuman, dan akhirnya melakukan terapi cuci hidung untuk meminimalisir penularan.

“Ada mahasiswa kedokteran positif. Dia cuci hidung, dan alhamdulillah mencegah terjadinya penularan di keluarganya,” demikian Deasi Anggraini.[Rmol]

Komentar