oleh

Kolaborasi Bareng China Cs Ciptakan Vaksin, Luhut: Indonesia Dianggap Prospektif

DEMOKRASI.CO.ID, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan mengatakan bahwa Indonesia mulai menyadari terlalu banyak impor obat daripada produk dalam negeri setelah mewabahnya covid 19.

“Kalau kita lihat juga Covid-19 ini kalau lihat dari satu sisi itu ada sisi positifnya. Ada wakeup call bahwa kita pengimpor obat yang besar. Kita enggak punya industri obat, sangat terbatas,” ujar Luhut dalam konferensi video, sebagaimana dikutip dari Tempo.co, Sabtu, 25 Juli 2020.

Saat ini, Luhut Pandjaitan mengaku pemerintah Indonesia mulai mengenjot produksi berbagai obat, vaksin, reagen, alat uji, hingga peralatan kesehatan di dalam negeri sebagaimanamana deskripsikan presiden Jokowi untuk menghemat APBN demi optimalisasi industri kesehatan Tanah Air.

Baca :  Iwan Sumule: Celaka Kalau Vaksin Covid-19 Dijadikan Bisnis Untuk Biaya Pilpres

Luhut mengaku Indonesia lebat kelabakan ketika negara tempat Indonesia mengimpor obat mengalami keterpurukan akibat covid 19. Karenanya, Indonesia mulai membuat bahan baku obat melalui fasilitas petrokimia milik PT Pertamina (Persero), “Begitu India lockdown kita kelabakan.” katanya.

Luhut menegaskan, Indonesia berkolaborasi dengan Cina, Korea Selatan, dan Norwegia untuk pengembangan vaksin covid-19, “(Mereka mau) karena Indonesia dianggap prospektif dengan market yang besar,” tegas Luhut.

Komentar