oleh

Kok Nadiem Masih Dipertahankan? Kalau Begitu Ada Gula Merah di Balik Klepon

DEMOKRASI.CO.ID, JAKARTA – Selama menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kbudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim dianggap belum mencatatkan prestasi menonjol.

Sebaliknya, mantan bos Gojek itu malah kerap membuat kontroversi, kegaduhan dan kekacauan.

Demikian disampampaikan analis politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun kepada RMOL, Minggu (26/7/2020).

Kekacauan kebijakan Nadiem juga terjadi sejak kebijakan merdeka belajar.

Kebijakan tersebut selain mencaplok slogan sebuah sekolah swasta, juga dinilai gagah di istilah tetapi keropos di substansi.

“Perbedaan tafsir di perguruan tinggi, ada semacam tambal sulam turunan ide lama dikemas dengan label merdeka belajar, jadi buang-buang energi saja, buang-buang anggaran,” ujarnya.

“Karena mengerjakan ulang sesuatu yang sudah dikerjakan dan merusak visi pendidikan secara substantif,” sambung Ubedilah.

Baca :  Faisal Basri Sindir Mendagri Tito Karnavian Rindu Orde Baru

Selain itu, gaya manajemen kementerian juga dinilai tidak terbuka dan menyalahi prinsip-prinsip open government.

Nadiem, kata Ubeidilah, terlihat terbuka di muka umum, tapi praktiknya di Kemendikbud sangat tertutup.

“Struktur birokrasi di Kemendikbud sangat sulit melakukan diskusi terbuka dan jujur dengan menterinya, tembok staf ahli menteri begitu kuat menutup akses menyangkut langkah-langkah penting, misalnya terkait perguruan tinggi,” jelasnya.

Tak hanya itu, Ubedilah juga menilai mantan Nadiem lambat merespons dampak Covid-19 terhadap mahasiswa perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Komentar