oleh

Kisah Nurul Cari Ayah Lewat Medsos, Bertemu Usai 16 Tahun Hilang Kontak

DEMOKRASI.CO.ID – Perjuangan berliku Nurul Happy Zalindra mencari sang ayah yang hilang kontak sejak 16 tahun lalu akhirnya membuahkan hasil. Gadis asal Aceh ini tak menyangka baru dapat melihat wajah sang ayah di usia 19 tahun.

Nurul mengatakan perjuangan mencari ayahnya, Rahim Said (52), yang menetap di Malaysia dimulai sejak tiga tahun lalu. Kala itu, Nurul mencoba mencari nama sang ayah di media sosial.

Setahun berselancar di media sosial, orang yang dicari Nurul tidak kunjung ketemu. Gadis yang kini menetap di Lhokseumawe, Aceh ini lalu mengunggah foto sang ayah di akun media sosialnya pada akhir 2018.

Cara kedua juga tidak membantu Nurul. Ketika usianya beranjak 19 tahun, Nurul memberanikan diri mengirim pesan ke akun-akun Instagram milik warga Malaysia.

Baca :  Denny Siregar Sindir Haikal Hasan dengan Penangkapan Artis HH: Kenapa Initial HH Selalu Identik Dengan Transfer Ya?

“Saya meng-DM (Direct Message) semua orang Malaysia waktu itu. Alhamdulillah kak Lyana yang tergerak hati untuk respons baik mau tolong saya,” kata Nurul, Senin (13/7/2020).

Nur Lyana Aqilah yang dihubungi Nurul adalah mahasiswi Universiti Islam Antarbangsa Malaysia. Dia tinggal di daerah Kulim, Kedah dan ternyata masih satu daerah dengan tempat tinggal ayahnya Nurul.

Foto: Kisah gadis Aceh cari ayah 16 tahun akhirnya bertemu lewat medsos (dok. Istimewa)

Keduanya mulai berkomunikasi pada Senin 6 Juli sekitar pukul 11.00 siang. Empat jam berselang, Nurul mendapat pesan dari Lyana yang dikirim lewat DM Instagram.

“Kakak Lyana kirim pesan jam 3 siang katanya abah (ayah) dah jumpa,” jelas mahasiswi STIKES Bumi Persada Lhokseumawe ini.

Nurul masih tak menyangka bakal kembali bertemu dengan sang ayah. Setelah mendapat nomor sang ayah, dia menghubunginya lewat video call.

Baca :  Foto Komodo Hadang Truk Viral, KLHK Tutup Akses Pulau Rinca dan Dilarang Ambil Foto

Ayah dan anak yang terpisah belasan tahun itu saling melepas kerinduan. Sejak saat itu, Nurul, ibunya Suryati dan sang ayah mulai aktif berkomunikasi lagi.

“Alhamdulillah dari pas bisa berkabar keluarga di sini (Aceh) dengan keluarga sana (Malaysia) berkomunikasi terus,” ujarnya.

Nurul mengungkapkan, ‘perpisahan’ sang ayah dengan ibunya dimulai pada tahun 2000 silam. Ketika itu, sang ibu yang sedang mengandung Nurul empat bulan pulang ke Aceh karena acara keluarga.

Sang ayah tidak ikut. Tapi keduanya masih sering berkomunikasi lewat surat karena tidak memiliki telepon. Empat tahun berselang, gempa dan tsunami melanda Aceh pada Desember 2004.

Rahim kembali mengirim surat untuk menanyakan kabar keluarganya di Aceh. Tapi surat itu ditolak dengan alasan Nurul dan ibunya sudah meninggal akibat bencana tsunami.

Baca :  Dukung Gatot Nurmantyo, Netizen: Maju Terus Jenderal...

“Dari situ lah abah kami hilang kontak dengan kami. Ibu pun kirim surat tapi tak pernah sampai ke sana dan ada orang yang bilang abah sudah tiada (meninggal),” jelas Nurul.

Nurul mengaku dirinya ingin segera ke Malaysia untuk bertemu langsung dengan ayahnya. Dia baru pertama sekali melihat wajah sang ayah pada Senin lalu.

“Sebelumnya belum pernah lihat. Alhamdulillah senang masih nggak nyangka juga tapi bersyukur kali,” katanya.

“Kalau ada rezeki, setelah habis Corona mau ke Malaysia, mau ketemu langsung dengan abah,” jelas Nurul. [dtk]

Komentar

News Feed