oleh

Kepada Komisi VI, Erick Thohir Ceritakan Kerja Penanganan Covid-19 Hingga Dipilihnya Vaksin Sinocac

DEMOKRASI News – Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan kepada Komisi VI DPR RI soal tugas dari Presiden Joko Widodo untuk menangani Covid-19.

Erick Thohir menceritakan dia bekerja untuk penanggulangan Covid-19 dengan bekerjasama antar lembaga yakni Kementerian PUPR dengan meminta fasilitas Wisma Atlet untuk menjadi RS Darurat Covid-19.

Kemudian, kerjasama bersama TNI dan Polri dalam melaksanakan operasi masker.

“Saat itu (harga) masker saat tinggi, tetapi kita coba dengan jaringan Kimia Farma menjual masker di harga Rp 2.500 perak hanya boleh beli lima perorang. Waktu itu dalam kondisi normal sekarang masker menjadi stabilitas baru dan inilah salah satu fungsi dsripada BUMN,” ujar Erick dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI di Gedung Nusantara I, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/1).

Baca :  PKS: Kerap Marah ke Menteri, Jokowi Tak Punya Kuasa dan Takut

Selain itu, Kementerian BUMN di bawah Erick Thohir telah melakukan inovasi, penemuan alat kesehatan lokal, seperti pembuatan ventilator dan lainnya.

“Kita juga berterimakasih kementerian lain dan para swasta yang akhirnya sekarang sudah terjadi pembelian alat kesehatan lokal, kemudian sudah diumumkan misalnya Genose,” imbuhnya.

Erick menambahkan saat Indonesia kesulitan obat, saat ini telah mampu memproduksi obat Favipiravir yang merupakan obat pertama ketika Indonesia terkena Covid-19 dan menjadi standarisasi nasional dalam pengobatan.

“Dan tentu ada obat-obat berikutnya tapi obat pertama ini sudah menjadi standarisasi, ketika dalam kondisi tertentu papiravir masuk dan ini sudah menjadi standarisasi,” urainya.

Lantas, BUMN diminta Menkeu Sri Mulyani melakukan penjajakan vaksin dengan merujuk pada dua negara yaknk Uni Emirat Arab dan China.

Baca :  Erick Thohir Nggak Mau Disuntik Vaksin China, PDIP: Yang Penting Rakyat Duluan

“Kenapa dua negara tujuan yang saat itu UAE dan China? Karena sejak awal kita mengontak para pembuat vaksin dari negara Eropa dan Amerika responnya sangat rendah, itu ada buktinya, bisa kita paparkan,” ucapnya.

Selain itu, pemilihan dua negara ini juga lantaran Indonesia memiliki hubungan dagang yang kuat.

“Kunjungan bapak presiden di bulan november ke UAE salah satunya kerjasama waktu itu PLN bersama Mazda kita membangun energi terbarukan di Cirata. Ataupun hubungan dagang dengan China pada saat itu terbukti bagaimana China sendiri membantu ekspor Indonesia masuk ke China,” tandasnya.[Rmol]

Komentar

News Feed