oleh

Kebijakan yang Zalim akan Menimbulkan Perlawanan Rakyat

DEMOKRASI News – Muchtar Pakpahan bukanlah nama yang asing di dunia perburuhan. Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang masih konsisten di gerakan buruh sejak Orde Baru hingga saat ini. Memasuki usia 67 tahun, Muchtar masih bergelut di DPP Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI). Mimpinya belum berubah, membayangkan Indonesia benar-benar menjadi Welfare State.

Pada 21 Desember 2020 menjadi hari yang membahagiakan bagi Muchtar karena pertambahan usia menjadi 67 tahun disertai dengan kabar bahagia bahwa kondisi kesehatannya mulai membaik. Siapa sangka, Muchtar mampu berjuang melawan kanker Nasofaring yang dia derita sejak 2018. Juli tahun lalu, Muchtar dinyatakan bersih dari kanker. Beberapa penyakit lainnya pun berangsur pulih.

“Kondisi kesehatan saya saat ini belum begitu pulih, tapi tidak sakit. Masih bisa beraktivitas sebagai guru besar di Universitas 17 Agustus, Ketum DPP SBSI, dan sebagai lawyer,” kata Muchtar saat dihubungi Law-Justice, Selasa (22/12/2020).

Baca :  Banyak Buronan Selain Djoko Tjandra, PBNU: Polri Tidak Boleh Hanya Bekerja Sesuai Instruksi Presiden

Usia yang ke-67 tentunya bukan waktu yang singkat untuk merefleksikan sebuah perjalanan hidup. Sudah banyak hal yang dilalui seorang Muchtar hingga menjadi seperti sekarang ini. Pria kelahiran Bah Jambi 2 Tanah Jawa, Simalungun Sumut, 21 Desember 1953 itu, adalah salah satu penggagas cikal bakal organisasi buruh independen pada masa Orde Baru, yakni SBSI.

Pada usia 18 tahun, Muchtar sudah menjadi yatim-piatu karena ditinggal oleh kedua orang tuanya, Sutan Johan Pakpahan dan Sutan Johan Pakpahan. Muchtar menghabiskan masa kecilnya di daerah Tanah Jawa, Sumatera Utara. Memasuki usia Sekolah Menengah Atas, dia hijrah ke Medan. Suami Rosintan Marpaung ini memperoleh gelar Sarjana Hukumnya di Universitas Sumatera Utara (USU).

Baca :  Viral! Video Tito Karnavian Sebut FPI Ormas Paling Toleran

Komentar

News Feed