oleh

Ingin Polemik Berakhir? Ini Saran Fadli Zon buat Puan Maharani, Mau Ngelakuin Gak?

DEMOKRASI News – Fadli Zon menyebut, polemik pernyataan Ketua DPP PDIP Puan Maharani bisa diselesaikan dengan sangat sederhana.

Caranya, Puan Maharani menyampaikan klarifikasi dan meminta maaf secara terbuka.

Demikian disampaikan Ketua Umum Ikatan Keluarga Minang itu dalam program ILC yang ditayangkan TvOne, Selasa (8/9) malam.

“Saya kira penyelesaiannya sederhana. Misalnya klarifikasi dan kalau ada yang tersinggung, dan cukup banyak yang tersinggung. Sebenarnya cukup minta maaf dan selesai,” kata Fadli Zon.

Anak buah Prabowo Subianto ini juga menilai wajar pembelaan Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah kepada Puan.

Namun, kata Fadli, masalah itu muncul karena teks dari pernyataan Puan yang melahirkan interpretasi beragam, bahkan menimbulkan pro dan kontra.

Baca :  Komeng Ingatkan Jokowi Soal Penangkapan Aktivis, Posisi Jokowi dalam Bahaya

Menurutnya, teks itu tidak cocok dan tak pas dilontarkan, apalagi dengan nuansa Pancasila.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini juga mencermati fenomena tentang Pancasila dijadikan alat untuk menyasar lawan politik dengan memberikan cap tidak Pancasilais.

Menurut Fadli, Pancasila yang seharusnya dijadikan pemersatu, malah dipakai untuk alat segregasi.

“Ini, menurut saya, menjadi berbahaya. Pancasila seharusnya menjadi alat pemersatu dan ini sudah selesai dulu tidak perlu diulang-ulang lagi seolah-olah masih ada yang belum Pancasilais,” katanya.

Fadli menambahkan, Bung Karno tidak pernah mengklaim sebagai sosok yang melahirkan Pancasila.

Sebab, kakek Puan Maharani itu justru mengaku sebagai salah satu penggali Pancasila.

“Bung Karno tidak pernah mengatakan sayalah yang melahirkan Pancasila. Bung Karno mengatakan sebagai penggali, dan sebenarnya sebagai salah satu penggali pancasila,” katanya.

Baca :  Ternyata, 3 Dari 4 Deputi Di Istana Maruf Amin Kosong

Pernyataan Fadli itu merujuk pada pidato-pidato di Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) 29 Mei-1 Juni 1945.

Para founding fathers seperti Bung Karno, M Yamin dan Soepomo juga berpidato pada forum bersejarah tersebut.

“Jadi, Bung Karno menggali dari apa yang sudah ada nilai-nilainya itu di Nusantara,”

“Bukan suatu inovasi baru, tetapi sudah ada di dalam tradisi masyarakat kita, beratus tahun bahkan beribu tahun karena peradaban kita sudah cukup panjang,” tandasnya.[]

Komentar

News Feed