oleh

Bank Dunia Nilai RI Naik Peringkat, Rizal Ramli: Ini Jebakan!

DEMOKRASI.CO.ID – Indonesia mendapat peringkat baru dari Bank dunia pada Kamis (2/6/2020). peringkat Indonesia tersebut terkait anggapan Bank dunia bahwa Indonesia telah mampu naik kelas sebagai negara yang berhasil meningkatkan pendapatan perkapita bruto atau Gross National Income (GNI) per kapita sebesar US$ 3.840 menjadi US$ 4.1050 per tahun pada akhir 2019.

Berdasarkan data tersebut, Indonesia dinilai oleh bank dunia bukan lagi sebagai negara lower middle income atau negara miskin. Bahkan, mulai 1 Juli 2020 Indonesia dikategorikan sebagai negara berpenghasilan menengah ke atas (upper middle income) versi Bank Dunia.

Menanggapi hal tersebut, ekonom senior Rizal Ramli menilai hal itu hanyalah jebakan dari Bank dunia. “RI naik kelas, ini jebakan Bank Dunia,” ujar RR, sapaan akrab Rizal Ramli sebagaimana dikutip dari Indonews. Id (5/7/2020).

Nada tidak suka terhadap hujan Bank dunia yang disampaikan oleh RR tersebut nampaknya merupakan imbas dari penilaian nya terhadap Bank dunia yang menjadi penyebab terjadinya krisis ekonomi di Indonesia.

Sebelumnya, Rizal Ramli bersama Ali Sadikin, Emil Salim, Faisal Basri, Anggito Abimanyu, Bambang Widjojanto, Gunawan Muhammad dan sejumlah tokoh aktivis lainnya, menyampaikan petisi terhadap Bank Dunia di Indonesia di depan James D. Wolfenshon.

Baca :  Keponakan Luhut Resmi Jadi Komisaris BEI

Pada kesempatan tersebut, Rizal Ramli secara tegas meminta Bank Dunia menjadikan kunjungan kerjannya ke Asia Timur untuk mengkampanyekan reformasi sistem keuangan dunia di segala sektor secara luas.

“Bank Dunia telah menyerukan reformasi luas yang mencakup keuangan daerah dan sektor industri, rezim perdagangan, utang luar negeri, dan lembaga pemerintah. Reformasi ini harus mendorong keterbukaan, transparansi, dan akuntabilitas yang lebih besar,” kata Rizal Ramli seperti dikutip RMOL.ID.

Berikutnya, Rizal Ramli menyampaikan kritik terhadap Bank dunia karena terlalu sering memberikan pujian terhadap pengelolaan keuangan Indonesia yang dinilainya ekonomi Indonesia telah dibuat ambruk oleh pemerintahan Orde Baru karena tidak menerapkan akuntabilitas dan transparansi keuangan.

lebih lanjut, Rizal Ramli mendesak Bank Dunia untuk tidak menganakemaskan Indonesia karena capaian defisit neraca yang berjalan pra krisis moneter sudah sangat besar bahkan nilai tukar rupiah mulai menanjak tinggi.

Karena itu, Menteri Ekonomi, Keuangan dan Industri (Ekuin) era Presiden Gus Dur ini mengatakan, krismon di Indonesia sangat merusak kredibilitas Bank Dunia.

Hal tersebut disebabkan Bank dunia tidak kritis atas kebijakan keuangan Indonesia yang tidak taat pada peraturan hukum.

“Namun Bank Dunia dalam tinjauan kebijakan 1997-nya, yang dirilis hanya sebulan sebelum dievaluasi oleh Thailand. Dan bahkan sampai akhir Juli 1997, masih mengambil pandangan optimis prospek ekonomi Indonesia,” ujar Rizal Ramli

Baca :  Isu Ahok Ganti Menteri BUMN, DPR: Itu Hak Progratif Presiden

Kata Bang RR –demikian dia biasa disapa, di hadapan James D. Wolfenshon menyayangkan perlakuan berlebihan Bank dunia terhadap bidang keuangan Indonesia. Mereka selalu meyakinkan elit Indonesia terkait Para investor dalam dan luar negeri tentang dana pinjaman yang diberikan akan bisa kembali beserta dengan bunganya. Sayangnya, hal tersebut membuat membuat Indonesia malah tersesat dan mengalami krisis moneter.

“Dengan mempromosikan argumen bahwa `semuanya baik dan baik-baik saja`, Bank Dunia telah menyesatkan investor domestik dan asing. Bank Dunia juga gagal menghubungkan pinjaman sektor keuangan dengan peningkatan pengawasan, dan pengawasan di atas sektor perbankan yang ekspansif,” urai Mantan Menko Perekonomian itu.

Lebih lanjut, Rizal Ramli mengurai hubungan saling menguntungkan antara Bank dunia dengan para elit Indonesia.

Terkait hal tersebut, Rizal Ramli mencontohkan Bank dunia sangat gembira dengan keputusan menteri Indonesia untuk mengembangkan proyek baru dan menerima kewajiban pinjaman baru. Namun ternyata, dalam penerapannya banyak sekali penyelewengan-penyelewengan.

Parahnya lagi, Bank dunia terkesan bersekongkol dengan menteri presiden Soeharto untuk ikut menutupi tanggungan hutang yang semakin membengkak. Bahkan, mereka setuju untuk tidak membuka secara detail terkait implementasi proyek yang dijalankan oleh pemerintah.

Baca :  Beredar Bocoran Susunan Menteri Kabinet Jokowi setelah Reshuffle edar Bocoran Susunan Menteri Kabinet Jokowi setelah Reshuffle

“Contoh yang sangat mengerikan dari hal ini adalah ‘Bank Poverty Study of Indonesia’ milik Bank Dunia 1990. Ketika pemerintah menolak analisis awal, Bank Dunia setuju untuk merevisi angka-angka tersebut, dan setuju menurunkan angka kemiskinan sebesar 60 persen,” kata RR.

Berdasar fakta tersebut, RR menuntut James D. Wolfenshon dan Bank dunia untuk membuka informasi portofolio Bank dunia di Indonesia secara lengkap. demikian juga dengan pengawasan dan laporan evaluasi plus rincian keuangannya.

“Bank Dunia harus menunjukkan pentingnya akuntabilitas dan mengakui perannya sendiri dalam perumusan kebijakan Indonesia sebelum krisis keuangan. Bank Dunia harus menerima tanggung jawab penuh atas penyimpangan keuangan yang berkaitan dengan proyek,” urainya.

Beberapa saat kemudian, James D. Wolfenshon menanggapi kritik pedas RR dengan mengakui kesalahan yang diperbuat organisasinya. Menurutnya, Bank dunia memang terlalu terlalu optimistis dalam memprediksi perekonomian Indonesia, akibatnya, terjadilah krisis ekonomi berkepanjangan.

“Saya di sini (di Jakarta) setahun yang lalu. Dan saya terperangkap dalam antusiasme. Saya tidak sendiri dalam melihat ekonomi Indonesia yang beberapa waktu sebelumnya bagus,” kata James D. Wolfenshon waktu itu.[rmol/brz/nu]

Komentar

News Feed