oleh

Bahas Keamanan Kawasan, Prabowo Perkuat Kerja Sama Maritim Dengan AS

DEMOKRASI News – Isu keamanan kawasan menjadi salah satu agenda penting dalam pertemuan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan mitranya, Mark Esper.

Bertemu di Pentagon, Washington DC pada Jumat (16/10), Prabowo dan Esper membahas keamanan kawasan, prioritas pertahanan bilateral, dan akuisisi pertahanan.

Melalui keterangan tertulis dari situs resmi Departemen Pertahanan AS, keduanya juga sepakat untuk meningkatkan kerja sama militer dan keamanan maritim.

“Kedua pemimpin berbagi keinginan mereka untuk meningkatkan kegiatan militer-ke-militer (secara bilateral) dan bekerja sama dalam keamanan maritim,” bunyi keterangan tersebut.

Isu keamanan maritim di kawasan Indo-Pasifik saat ini memang tengah menjadi perhatian kedua negara.

AS secara terang-terangan berusaha untuk menghentikan pengaruh China yang semakin agresif di Laut China Timur dan Laut China Selatan.

Baca :  Dua Pesawat Peluncur Nuklir AS Beroperasi usai Trump Positif Covid-19, Pertanda Apa?

Meski Indonesia bukan merupakan claimant state dalam sengketa Laut China Selatan, namun China beberapa kali telah melanggar hak kedaulatan di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) di Laut Natuna Utara.

Pada akhir tahun lalu, kapal China Coast Guard memasuki perbatasan ZEEI Laut Natuna Utara. Ketika itu, pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, melayangkan protes keras kepada pemerintah China.

“Sehubungan dengan pernyataan jurubicara Kementerian Luar Negeri China pada 31 Desember 2019, Indonesia kembali menegaskan penolakannya atas klaim historis China atas ZEE,” kata kementerian.

Terbaru, kapal China Coast Guard juga memasuki ZEEI di Laut Natuna Utara pada 14 September 2020.

Kapal dengan nomor lambung 5204 itu sebelumnya terdeteksi oleh sistem kapal milik Bakamla RI, KN Pulau Nipah-321, pada 12 September 2020.

Baca :  Belajar Dari Perjanjian Batu Tulis, Prabowo Harus Tetap Hati-hati Dengan Megawati

Ketika kru KN Pulau Nipah berusaha melakukan komunikasi untuk mengusir kapal tersebut. pihak China mengklaim tengah berpatroli di area sembilan garis putus yang menjadi klaim Beijing.

Guna menghindari kejadian serupa, saat ini Bakamla terus aktif melakukan patroli di ZEEI Laut Natuna Utara.[rmol]

Komentar

News Feed