oleh

Alasan Representasi Milenial Bukan Pembenaran, Sudah Waktunya Presiden Jokowi Copot Nadiem Makarim

DEMOKRASI.CO.ID – Pandemik virus corona baru atau Covid-19 adalah ujian bagi menteri-menteri dalam Kabinet Indonesia Maju, pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Pandemik Covid-19 seperti saat ini, mampukah para menteri tersebut melakukan berbagai terobosan yang benar-benar manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat?” ujar jurubicara Front Aksi Mahasiswa (FAM) Indonesia Wenry Anshory Putra dalam keterangannya, Kamis (2/7).
Salah satu menteri yang bagi Wenry tidak memiliki kinerja yang baik di tengah pandemik, adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.
Awalnya, memang membanggakan ada kalangan milenial menjadi menteri. Tetapi, bagi Wenry, kinerja Nadiem tidak menunjukkan dia memiliki kapasitas untuk membantu jalannya pemerintahan.
“Inilah yang sedang dipertontonkan oleh Nadiem Makarim, seseorang yang mengklaim dirinya sebagai representasi generasi milenial di Kabinet Indonesia Maju,” katanya.
Bahkan, sambungnya, program merdeka belajar yang dijagokan Nadiem hingga saat ini tidak jelas arahnya atau hanya berjalan sebatas jargon saja.
“Program Merdeka Belajar yang konon baru akan berhasil bila disertai dengan kemajuan teknologi. Namun di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini, para siswa dan mahasiswa mengalami kesulitan dalam mengikuti proses belajar mengajar secara daring dari rumah, apalagi di daerah-daerah yang masih belum memadainya jaringan listrik dan internet,” jelasnya.
Euforia keterwakilan milenial pada Nadiem di kabinet tidak boleh terlalu lama dibiarkan. Menurutnya, sudah waktunya Presiden Joko Widodo mencari figur baru untuk menata dan membangun pendidikan nasional.
“Representasi generasi milenial tidak bisa menjadi pembenaran, bahwa kita harus memaklumi ketidakmampuannya. Sebaiknya Presiden Jokowi memecat Nadiem Makarim dari posisi sebagai Mendikbud,” pungkanya. (Rmol)
Baca :  Tak Seperti Thailand Dan Singapura, Ekonomi Indonesia Masih “Beruntung”

Komentar

News Feed